Senin, 26 September 2011

Usaha dengan Kemungkinan Berhasil Tinggi


Seseorang yang menemukan produk baru atau suatu ciptaan baru belum tentu mampu memproduksi dan berhasil memasarkan hasil produknya secara komersial. Pelaksanaan produksi dan pemasaran produknya membutuhkan suatu keahlian, pengalaman dan jaringan pemasaran yang dapat menjamin kelancaran usaha. Dengan masuknya modal ventura (venture capitalist) yang memiliki kemampuan manajemen dan latar belakang bisnis yang kuat sebagai mitra usaha, maka kemungkinan berhasilnya perusahaan pasangan akan menjadi lebih besar.


Pemasok Produk

Pemasok produk bisa berupa produk jadi atau setengah jadi. Berbagai produk yang dijual di supermarket sebagian besar mengandalkan pasokan dari pengusaha kecil dan mikro. Kontribusi UKM dalam memasok berbagai produk itu diperkirakan mencapai lebih dari 50% dari seluruh jenis barang, mulai dari sepatu, pakaian, assesoris, makanan, sayur-sayuran dan buah-buahan. Sedangkan selebihnya seperti kosmetik, barang pecah belah dan anake produk pabrikan lainnya merupakan pasokan industri besar. Sayangnya keterlibatan UKM ini kadang disalahgunakan oleh kalangan pengusaha besar, khususnya dengan system pembayaran yang dinilai kurang adil, dengan tenggang waktu mencapai dua hingga tiga bulan. Dengan cara seperti itu, sebetulnya UKM tidaknya tidak hanya menjadi pemasok tetapi juga menyubsidi usaha besar. Sebab para pemilik supermarket itu tidak memerlukan modal yang besar untuk pengadaan barang dagangannya mengingat pembayaran kepada UKM baru dilakukan beberapa bulan kemudian setelah barang terjual. Produk yang dipasok oleh UKM tidak selamanya produk-produk jadi bisa juga setengah jadi. Dalam industri meubel misalnya para pengrajin di Jepara memasok berbagai kerajinannya yang oleh perusahaan besar masih harus diselesaikan (finishing). Dengan demikian beberapa pengusaha batik dengan emrek terkenal banyak yang tidak memproduksi langsung tetapi menampung hasil produk UKM.

Pemasok Bahan Baku

Berbagai industri besar khususnya yang bergerak dibidang agro banyak yang menggantungkan pasokan bahan bakunya dari UKM. Industri pengolahan kopi, karet, coklat, dan hasilo-hasil perkebunan lainnya. Umumnya masih mengandalkan pasokan dari petani, meskipun harus melalui mata rantai yang cukup panjang. Baru sebagian ekcil sector agro yang memproduksi sendiri bahan bakunya. Itupun tidak sepenuhnya lepas dari peran petani. Industri CPO misalnya, meskipun sudah mempunyai perkebunan sendiri tetap membutuhkan keterlibatan petani. Sebagai pemasok, posisi UKM adalah produsen, dimana produk yang mereka hasilkan akan menjadi bahan baku bagi industri besar yang bergerak dibidang pengolahan. Secara teoritis, pihak pengusaha besar mempunyai ketergantungan yang sangat tinggi terhadap UKM. Kalau saja para petani ini menghentikan produksinya, dengan sendirinya kegiatan industri tersebut akan terganggu.

Pemasok Komponen

Kalangan industri di engara-negara yang sudah maju banyak yang melibatkan industri kecil sebagai pemasok berbagai komponen yang mereka butuhkan. Contoh yang sangat yaitu kemitraan yang dibangun oleh industri otomotif di Jepang dengan kalangan industri. Keterlibatan UKM ini sepenuhnya dilandasi oleh prinsip bisnis yang saling menguntungkan, bukan kemitraan karean belas kasihan apalagi dipaksakan seperti yang sering terjadi dikalangan industri Indonesia. Kaum industriawan Jepang telah membuktikan bahwa dengan melimpahkan berbagai kegiatan tertentu dari proses produksinya kepada industri kecil, akan mampu meningkatkan efisiensi dan sekaligus meningkatkan nilai tambah dan dampak social ekonomi lainnya. Sebagian industri di Indonesia telah mencontoh keberhasilan di Jepang itu, seperti yang dilakukan beberapa industri otomotif dengan para pengrajin logam di Tegal dan Ceper (Klaten). Pola kemitraan ini juga bisa diterapkan di industri lain. Sayangnya keterlibaaatan UKM ini lebih sebagai program pemerataan berusaha yang seolah hanya menguntungkan UKM. Dengan kata lain, keterlibatan UKM ini belum dianggap sebagai kebutuhan yang benar-benar mampu meningkatkan efisiensi.

Pemasok Produk

Pemasok produk bisa berupa produk jadi atau setengah jadi. Berbagai produk yang dijual di supermarket sebagian besar mengandalkan pasokan dari pengusaha kecil dan mikro. Kontribusi UKM dalam memasok berbagai produk itu diperkirakan mencapai lebih dari 50% dari seluruh jenis barang, mulai dari sepatu, pakaian, assesoris, makanan, sayur-sayuran dan buah-buahan. Sedangkan selebihnya seperti kosmetik, barang pecah belah dan anake produk pabrikan lainnya merupakan pasokan industri besar. Sayangnya keterlibatan UKM ini kadang disalahgunakan oleh kalangan pengusaha besar, khususnya dengan system pembayaran yang dinilai kurang adil, dengan tenggang waktu mencapai dua hingga tiga bulan. Dengan cara seperti itu, sebetulnya UKM tidaknya tidak hanya menjadi pemasok tetapi juga menyubsidi usaha besar. Sebab para pemilik supermarket itu tidak memerlukan modal yang besar untuk pengadaan barang dagangannya mengingat pembayaran kepada UKM baru dilakukan beberapa bulan kemudian setelah barang terjual. Produk yang dipasok oleh UKM tidak selamanya produk-produk jadi bisa juga setengah jadi. Dalam industri meubel misalnya para pengrajin di Jepara memasok berbagai kerajinannya yang oleh perusahaan besar masih harus diselesaikan (finishing). Dengan demikian beberapa pengusaha batik dengan emrek terkenal banyak yang tidak memproduksi langsung tetapi menampung hasil produk UKM.

Peningkatan Kompetensi Modal Ventura

Karyawan dan staf perusahaan modal ventura (venture capitalist) berpotensi meningkatkan kompetensinya (kemampuan teknis dan pengalamannya) dalam mengelola berbagai perusahaan seiring dengan semakin seringnya memberikan bantuan manajemen kepada perusahaan pasangan usaha. Peningkatan kemampuan teknis dan pengalaman tersebut selain bermanfaat bagi perusahaan modal ventura.

Pemasaran Modal Ventura

Keberhasilan dalam melakukan modal penyertaan dan memberikan bantuan manajemen kepada perusahaan pasangan usaha secara bertahap dapat meningkatkan pengetahuan dan kepercayaan masyarakat tentang kegiatan modal ventura.

Perkembangan Inflasi di Indonesia

Pada umumnya inflasi bermakna "kenaikan yang berterusan dalarn tingkat harga urnum". "Harga umum" bermaksud harga yang menggambarkan paras harga bagi keseluruhan barangan dan perkhidmatan yang ada dalarn sesuatu ekonorni pada sesuatu masa tertentu. Oleh kerana terlalu banyak bilangan barangan yang terdapat pada sesuatu masa, maka arnat sulit untuk mendapatkan sernua harga barangan dan perkhidmatan berkenaan. Oleh itu, satu kaedah telah dibentuk untuk mengukur paras harga urnum ini dengan mengambil sebilangan barangan dan perkhidmatan tertentu sebagai mewakili keseluruhan barangan dan perkhidmatan yang ada dalarn sesuatu ekonorni dan harga mereka diukur dengan rnenggunakan Indeks Harga. Seringkali koleksi barangan dan perkhidmatan yang diambil itu mewakili barangan dan perkhidmatan yang digunakan oleh pengguna. Oleh itulah indeks harga ini dinamakan Indeks Harga Pengguna (IHP) dan bagi Malaysia, indeks ini dikeluarkan dari masa ke masa oleh Jabatan Perangkaan. "Kenaikan yang berterusan" bermaksud bahawa inflasi hanya berlaku pada ketika paras harga urnum meningkat secara berterusan dalarn satu-satu tempoh tertentu sahaja. Sesuatu kenaikan harga yang bersifat sementara seperti kenaikan harga akibat musim kernarau atau kenaikan harga kerana meningkatnya kadar cukai jalan tidak dianggap sebagai inflasi kerana kenaikan harga sebegini hanya berlaku sekali saja.



FAKTOR-FAKTOR YANG MEMYEBABKAN INFLASI

Secara umumnya, inflasi boleh disebabkan oleh mana-mana satu dari faktor-faktor berikut atau kombinasi faktor-faktor ini :

1. Inflasi Tolakan Kos
Inflasi tolakan kos adalah disebabkan oleh kenaikan kos pengeluaran yang tinggi. Kenaikan kos pengeluaran ini disebabkan oleh kenaikan harga bagi faktor-faktor pengeluaran seperti tingkat upah. Sebagai contoh, jika kadar upah meningkat dengan tinggi, maka kos pengeluaran akan meningkat.

Apabila kos pengeluaran meningkat, maka pengeluar yang sentiasa mahu memaksimumkan keuntungan akan mengenakan harga yang tinggi kepada pengguna. Selepas merasakan kesan kenaikan harga ini (penurunan dalam tingkat pendapatan benar), pengguna yang juga bekerja (dianggap sebagai buruh) akan meminta kenaikan gaji yang baru dan lebih tinggi bagi menampung peningkatan harga ini. Jika permohonan mereka berjaya, kos pengeluaran akan meningkat dan seterusnya pengeluar pula akan meningkatkan harga mereka. Tingkat harga umum akan meningkat sekali lagi.

2. Inflasi Tarikan Permintaan
Inflasi tarikan permintaan berpunca daripada ketidakseimbangan antara jumlah permintaan dengan jumlah penawaran barangan dan perkhidmatan dalam sesebuah negara pada sesuatu masa tertentu. Jika berlaku peningkatan jumlah permintaan yang tinggi berbanding dengan jumlah penawaran, maka inflasi akan wujud. Keadaan ini wujud apabila peningkatan permintaan berlaku pada masa ekonomi negara berada pada tingkat gunatenaga penuh. Apabila sesebuah ekonomi mencapai gunatenaga penuh seperti yang Malaysia alami pada masa ini tingkat pengeluaran sukar dinaikkan dengan cepat untuk menampung permintaan yang melambung ini, sama ada oleh sebab kekata,n pasaran buruh atau pembekalan barangan. Peningkatan jumlah permintaan pula boleh berpunca kepada:

a) Peningkatan Tinglkat Pendapatan
Peningkatan yang tinggi dalam permintaan agregat disebabkan oleh peningkatan dalam pendapatan pengguna. Pendapatan yang tinggi ini akan meninggikan kecenderungan pengguna untuk berbelanja dan ini akan meningkatkan jumlah permintaan dalam sesebuah ekonomi. Pada kebiasaannya, peningkatan pendapatan pengguna berlaku pada ketika ekonomi mengalami pertumbuhan yang tinggi.

b) Peningkatan Penawaran Wang
Penawaran wang yang banyak dalam sesuatu ekonomi boleh meningkatkan jumlah permintaan dalam negara. Jika penawaran wang tidak dikawal, maka ekonomi pada keseluruhannya mempunyai kadar kecairan yang tinggi dan ia akan meningkatkan jumlah permintaan dalam negara. Jika terlalu banyak wang yang mengejar barangan dan perkhidmatan yang sedikit, maka inflasi akan wujud.

3. Inflasi Diimport
Inflasi diimport boleh disebabkan oleh dua faktor: peningkatan harga barangan dan perkhidmatan yang diimport dan penurunan kadar pertukaran asing.

a. Peningkatan Harga di Luar Negara
Inflasi boleh menyerap dalam sesebuah negara melalui import. Ini terutamanya benar bagi sesebuah ekonomi terbuka seperti Malaysia yang banyak mengimport barangan dan perkhidmatan dari luar negara. Jika hargaharga import ini meningkat, maka ia akan memberi kesan kepada harga dalam negara.

b. Penurunan Kadar Pertulkaran Wang
Inflasi import ini juga dipengaruhi oleh kadar pertukaran wang di antara Malaysia dengan negara luar. Umpamanya, jika kadar pertukaran wang Malaysia dengan Amerika jatuh (bermakna semakin banyak RM diperlukan untuk membeli satu dollar Amerika), maka dengan secara langsung Malaysia terpaksa membelanjakan banyak wang untuk mendapat sejumlah barangan dan membayar dengan harga yang tinggi. Tentunya harga yang tinggi ini akan dikenakan ke atas pengguna dalam negara.

4. Jangkaan Pengguna
Inflasi juga dipengaruhi oleh jangkaan pengguna.
Jika pengguna membuat jangkaan yang harga akan naik pada masa hadapan, mereka akan berbelanja sekarang dan ini akan menambah jumlah permintaan dalam sesuatu ekonomi. Seterusnya, ini akan memberi peluang kepada pengeluar untuk mengambil kesempatan untuk meningkatkan harga.
Secara umumnya, inflasi boleh disebabkan oleh mana-mana satu dari faktor-faktor berikut atau kombinasi faktor-faktor ini :

1. Inflasi Tolakan Kos
Inflasi tolakan kos adalah disebabkan oleh kenaikan kos pengeluaran yang tinggi. Kenaikan kos pengeluaran ini disebabkan oleh kenaikan harga bagi faktor-faktor pengeluaran seperti tingkat upah. Sebagai contoh, jika kadar upah meningkat dengan tinggi, maka kos pengeluaran akan meningkat. Apabila kos pengeluaran meningkat, maka pengeluar yang sentiasa mahu memaksimumkan keuntungan akan mengenakan harga yang tinggi kepada pengguna. Selepas merasakan kesan kenaikan harga ini (penurunan dalam tingkat pendapatan benar), pengguna yang juga bekerja (dianggap sebagai buruh) akan meminta kenaikan gaji yang baru dan lebih tinggi bagi menampung peningkatan harga ini. Jika permohonan mereka berjaya, kos pengeluaran akan meningkat dan seterusnya pengeluar pula akan meningkatkan harga mereka. Tingkat harga umum akan meningkat sekali lagi.

2. Inflasi Tarikan Permintaan
Inflasi tarikan permintaan berpunca daripada ketidakseimbangan antara jumlah permintaan dengan jumlah penawaran barangan dan perkhidmatan dalam sesebuah negara pada sesuatu masa tertentu. Jika berlaku peningkatan jumlah permintaan yang tinggi berbanding dengan jumlah penawaran, maka inflasi akan wujud. Keadaan ini wujud apabila peningkatan permintaan berlaku pada masa ekonomi negara berada pada tingkat gunatenaga penuh. Apabila sesebuah ekonomi mencapai gunatenaga penuh seperti yang Malaysia alami pada masa ini tingkat pengeluaran sukar dinaikkan dengan cepat untuk menampung permintaan yang melambung ini, sama ada oleh sebab kekata,n pasaran buruh atau pembekalan barangan. Peningkatan jumlah permintaan pula boleh berpunca kepada:

a) Peningkatan Tinglkat Pendapatan
Peningkatan yang tinggi dalam permintaan agregat disebabkan oleh peningkatan dalam pendapatan pengguna. Pendapatan yang tinggi ini akan meninggikan kecenderungan pengguna untuk berbelanja dan ini akan meningkatkan jumlah permintaan dalam sesebuah ekonomi. Pada kebiasaannya, peningkatan pendapatan pengguna berlaku pada ketika ekonomi mengalami pertumbuhan yang tinggi.

b) Peningkatan Penawaran Wang
Penawaran wang yang banyak dalam sesuatu ekonomi boleh meningkatkan jumlah permintaan dalam negara. Jika penawaran wang tidak dikawal, maka ekonomi pada keseluruhannya mempunyai kadar kecairan yang tinggi dan ia akan meningkatkan jumlah permintaan dalam negara. Jika terlalu banyak wang yang mengejar barangan dan perkhidmatan yang sedikit, maka inflasi akan wujud.

3. Inflasi Diimport
Inflasi diimport boleh disebabkan oleh dua faktor: peningkatan harga barangan dan perkhidmatan yang diimport dan penurunan kadar pertukaran asing.
i. Peningkatan Harga di Luar Negara
Inflasi boleh menyerap dalam sesebuah negara melalui import. Ini terutamanya benar bagi sesebuah ekonomi terbuka seperti Malaysia yang banyak mengimport barangan dan perkhidmatan dari luar negara. Jika hargaharga import ini meningkat, maka ia akan memberi kesan kepada harga dalam negara.

ii. Penurunan Kadar Pertukaran Uang
Inflasi import ini juga dipengaruhi oleh kadar pertukaran wang di antara Malaysia dengan negara luar. Umpamanya, jika kadar pertukaran wang Malaysia dengan Amerika jatuh (bermakna semakin banyak RM diperlukan untuk membeli satu dollar Amerika), maka dengan secara langsung Malaysia terpaksa membelanjakan banyak wang untuk mendapat sejumlah barangan dan membayar dengan harga yang tinggi. Tentunya harga yang tinggi ini akan dikenakan ke atas pengguna dalam negara.

4. Jangkaan Pengguna
Inflasi juga dipengaruhi oleh jangkaan pengguna.
Jika pengguna membuat jangkaan yang harga akan naik pada masa hadapan, mereka akan berbelanja sekarang dan ini akan menambah jumlah permintaan dalam sesuatu ekonomi. Seterusnya, ini akan memberi peluang kepada pengeluar untuk mengambil kesempatan untuk meningkatkan harga.